Namanya N (kita beri inisial saja tokoh2 ini) menikah dengan A tahun 90-an, di Manado, tentunya jauh disaat fesbuk masih di dunia ghaib, jadi tidak ada status-comment status-atau upload foto wedding.

Singkatnya pernikahan mereka bahagia dengan kelahiran putra mereka bernama A1, N merasakan kebahagiaan luar biasa sebagai ibu dengan pengalaman pertamanya yang tidak bisa dilukiskan dengan kata2, suatu perasaan sedih gundah gulana risau bercampur bahagia haru takjub dan cinta, kepada sosok mungil yang hadir melalui perantaraan rahimnya. A1 adalah pangeran kecil yang akan menghiasi kehidupannya sampai tua dan maut menjemput.

Namun disaat moment2 emas ini justru prahara pernikahan datang menggoncang N dan A, menyebabkan mereka sebagai kedua orangtua A1 harus memisahkan diri bagaikan dua gerbong kereta api yang saling berlawanan arah, si ibu tetap di Manado sedang ayah ke Jakarta. Perpisahan mengiris hati N yang harus merelakan dengan terpaksa kepergian A1 dengan ayahnya, A.

Waktu berlalu, A1 dan ayahnya sudah menjadi bagian dari kehidupan pulau Jawa dan hiruk pikuk pinggiran ibukota. Di usia yang makin dewasa menginjak usia sekolah SMU, si ayah meninggal dunia dengan sebelumnya tidak meninggalkan jejak komunikasi apapun dengan N, ibunya, tentu saja anggapan sanak family bahwa ibunda A1 sudah meninggal belasan tahun lamanya.

N tetaplah seorang wanita, dengan insting keibuan yang akan terus merindukan dan mencintai darah daging yang telah berbicara bathin dengannya selama sembilan bulan, intensif 24 jam nonstop. Muncul keinginannya untuk bertemu anaknya, berjumpa wajah yang telah belasan tahun tidak dilihatnya, bahkan mungkin sudah berbeda dengan ketika dulu digendong-gendongnya.

Tapi mau dicari kemana?? tahunan dijalani N mencari dan menguak Manado, menemukan A1 tanpa hasil, hampir saja putus asa memutus harapan. Dicobanya teknologi yang sedang trend yang baginya sudah bukan masanya, tapi apa mau dikata semua upaya akan dilakukan indung semang untuk menemukan anaknya yang “hilang”.

Teringatlah nama2 yang pernah diingatnya saat menikah dulu bersama almarhum A, diketik dan dilihat satu persatu semua nama itu pada Facebook (ya Facebook-lah teknologi itu). berhari-hari tak jemu dipelototi semua nama dan foto yang terpampang didalamnya berharap menemukan orang yang akan menjadi kunci ditemukannya A1, setiap kali menemukan nama yang cocok jantung berdegup kencang antara harap dan takut, grogi dan senang mengaduk-aduk hatinya. Kegagalan demi kegagalan menemukan A1 membuatnya merenung sebelum tidur, dan tiba2 bukan nama orang yang terbersit dipikirannya melainkan sebuah nama sekolah Taman Kanak-Kanak. Jari jemarinya kembali memainkan keinginan otaknya untuk mengetikkan sebuah nama TK, muncullah beragam versi nama dan kembali matanya mengamati satu persatu nama dan foto profil setiap orang yang berada didalamnya. Berhentilah N ke sebuah profil yang namanya pernah diingatnya namun penampilan berjilbabnya sempat membuatnya terhenti untuk memastikan berulang-ulang wajah itu, akhirnya N memberikan diri untuk mengirimkan pesan, “Apakah ini Kak D? bagaimana kabar A1 kak?” jantung berdebar dan penantian membuat gelisah N ketika menunggu jawaban pesan yang dikirimnya, si D tentu tidak serta merta meng-add N, dijawabnya “ini siapa?” inilah titik awal tanya jawab N dengan pemilik profil yang nantinya akan mempertemukan dirinya dengan A1 setelah belasan tahun berpisah tanpa komunikasi sekalipun.

D kemudian membuat janji pertemuan dengan N untuk mempertemukan dirinya dengan A1 di Jakarta, di sekolah yang menjadi “tagline” bagi N menemukan A1 di Facebok. Hari yang dinanti telah tiba, gelisah tiada henti bertubi-tubi menuntun perasaan N yang begitu rindunya menjumpai buah hati yang mungkin sudah tidak ingat dengan dirinya. dari kejauhan menghampiri tiga sosok berjalan mendekati N ketika sedang menunggu di titik pertemuan, satu orang ibu mengenakan Jilbab rapi ditemani dua orang pria, satu pria diyakininya sebagai suami ibu tersebut, sedangkan disampingnya berjalan remaja dengan tubuh lebih tinggi darinya, bukan sosok mungil kecil lucu yang pernah digendong dan dicium2nya saat bayi..tak terasa tetesan air mata hangat membasahi pipinya dan tak hentinya-hentinya tetesan itu semakin bertambah deras, tak kuasa N untuk tidak tersedu haru menangis memeluk dan mencium pipi A1 yang telah berpisah dengannya, terobati sudah kerinduan yang telah membuat hatinya tersayat dengan menjumpai buah hatinya setelah melalui ketikan demi ketikan nama pada sebuah produk temuan Mark Zuberberg, ini bukan tipuan reality show yang lebay overdramatis, ini kisah nyata sebagaimana diceritakan suami dari Kak D kepada RiyadiDotom